Home » Batam » Keling bin Jabat Perintis Kampung Setengar & Penemu Bahan Cat Alami Di Kota Batam

Keling bin Jabat Perintis Kampung Setengar & Penemu Bahan Cat Alami Di Kota Batam

Foto Makam Orang Tua Keling Bin Jabat (Kayu Nisan Yang Masih Utuh Dan Kokoh Berusia Ratusan Tahun)

SAMUDERAKEPRI.CO.ID, BATAM – Sudah seharusnya para tokoh pemimpin, cendikia-cendikiawan dan komponen elemen masyarakat yang memiliki peran untuk membangkitkan dan sadar atas kekeliruannya demi kemajuan Kota Batam untuk lebih bersyukur serta merasa bangga merasa nyaman dan takjub…atas keunikan serta keistimewaan Pulau Batam.

Pada episode-episode / tayangan sebelumnya telah disajikan kisah sejarah tentang “Tari Payung” pertemuan Puteri Melayu Semenanjung Riau dengan Kerajaan Istana Maimun Melayu Deli Sumatera Utara, Kisah Putri Hijau masih sahabat atau kerabat dekat Raja Isa atau Nong Isa (makam Zuriat Nong Isa jadi bukan makam Raja Isa yang popular dengan nama Nongsa), kisah Batu Besar oleh Syeikh Abdullah, kisah Marhom pohon berjanggut atau Daeng Kamboja.

Lantas…bagaimana pula halnya dengan kisah Sei Jodoh tempat pertemuan terbuka dengan sang Puteri cantik jelita sangat menawan hingga menjadi arena kesaktian orang-orang dahulu…akhirnya disejukkan oleh orang biasa tak disangka dan tak terduga sakti mandraguna makam syeikh di area masjid Baitusyakur (masjid pertama di Pulau Batam). Serta kisah Pulau Penyambung, Panglima Kumbang, Pendekar Hitam dan lain-lainnya. Sehingga dapat dijadikan sebagai bukti adanya Makam Tua situs sejarah yang berada pada setiap titik sudut penjuru Kota Batam. Sungguh Maha Besar…Maha Kuasa…Maha Bijaksana Tuhan semesta alam yang telah menciptakan dan melindungi keunikan keistimewaan di Negeri Segantang Lada ini.

Namun demikian, dimanakah letak dan tempat makam tua situs sejarah terakhir yang berada pada setiap titik sudut penjuru yang mengeliling Kota Batam…? Sesuai dasar-dasar keterangan para tokoh tua yang terabaikan namun lahir di Pulau Batam dan tokoh tua di semananjung Melayu Riau (sebelum Provinsi Kepri adalah Provinsi Riau). Itulah Kampung Setengar Tanjung Piayu wilayah paling sudut paling ujung dan paling pojok Pulau Batam tempat beradanya Makam Tua Keling bin Jabat bermula dari nama tumbuhan sebagai sumber kehidupan, cukup dikenal pada jaman dahulu namun terlupakan.

Menurut keterangan “Ahad, Abu, Som, Noto dan anak cucu” ahli waris Makam Tua Keling bin Jabat bercerita kisah turun temurun, orang tua buyutnya, memang betul ada masih hidup lagi kaluarga kami di Bintan, Daek dan Siak. Masa kecil dulu lagi sempat jumpa disana. Buyut kami pernah datang tangok cucu cictnya sakit, badannya tinggi besar kulit hitam mukanya nampak keras (maksudnya bentuk bahu dan tulang rahangnya yang kokoh), sinar matanya tajam tapi tengah mata dia ada warna biru. Setelah itu pergi hilang entah lewat mana dan esok paginya cucu cicitnya dah sehat macam tak ada sakitpun.

Ahli waris Keling bin Jabat bercerita sambil mengupas kulit dan batang tumbuhan tapi sempat membuat tim penulis media ini terkejut karena tangan ahli waris tiba-tiba terlihat berlumuran darah warna merah segar dan terang tapi bisa berubah warna lagi. Lantas ahli waris menjelaskan “inilah tumbuhan Setengar dan ini tumbuhan lain dicampur boleh ganti warna”.

Kemudian ahli waris Makam Tua Keling bin Jabat menunjuk kayu nisan buyutnya, dari dulu sampe sekarang masih aslinya dah ratusan tahun umurnya warna merah bukan di cat di kopek pun tak lekang (tidak terkelupas) namanya Kayu Tembesu. Namun sewaktu ditanya tentang Makam Merah atau Panglima Merah dan Tengku Hamidah Engku Putri, ahli waris hanya tersenyum dengan sinar mata terlihat cukup dalam…

Apakah penemuan Tumbuhan Setengar sebagai bahan cat alami oleh Keling bin Jabat dapat dijadikan sumber ilmu bagi generasi Kota Batam saat ini…? Atau dapat dijadikan landasan tesis pada Perguruan Tinggi Universitas…?

Dan diantara cucu cicitnya (berjenis kelamin putri) ahli waris makam tua Kota Batam ditemukan kulitnya tidak gosong tidak terpengaruh oleh teriknya sengatan matahari meskipun habis berenang dilaut dan bola matanya memancarkan sinar kebiruan atau warna biru (ciri khas berdarah ningrat) bertanya “oom destinasi wisata itu apa sih… kedengarannya jalan-jalan gitu trus datang dan pergi…? Tim penulis media ini merasa kaget tapi lucu mendengar pertanyaan remaja putri tersebut lantas menjawab “Destinasi wisata itu adalah program kerja berisi penjelasan kisah sejarah yang benar dan baik dengan kajian penelusuran langsung. Para remaja pun tersenyum sambil menunjukkan buku kisah Diponegoro dan Kerajaan Pajajaran. (RMSAg)

Bersambung…benarkah situs sejarah sengaja dilenyapkan atau dihancurkan…?? 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Web
Analytics
%d blogger menyukai ini: