Kinerja Disparbud Dan Dinsos Pemakaman Kota Batam Sungguh Mengagumkan, Apakah Benar..?

samuderakepri.co.id, Batam – Konon ceritanya di Kota Batam tempat beradanya makam-makam Tua bernilai historis sejarah yang cukup tinggi terbentuk dari berbagai macam struktur batu nisan (pantauan arkeologi) dan di hiasi pula oleh beragam rupa Etnis dari garis keturunan yang hidup menetap hingga akhir hayatnya di Kota Batam. Akan tetapi terkesan di lupakan di abaikan dan tersingkirkan bahkan di anggap hanya sebagai gundukan tumpukan tanah doang.

Menurut keterangan tokoh-tokoh masyarakat maupun ulama, tenaga pendidik/pengajar dan anggota Dewan di Kota Batam menyebutkan “Sangat di perlukan adanya kesadaran dan kemauan agar melestarikan kisah sejarah budaya melayu di Kota Batam ini, banyak manfaatnya bagi anak cucu dengan bukti banyaknya makam-makam tua yang di kunjungi di ziarahi orang termasuk wisatawan, asal jangan di salah gunakan tujuan niatnya”.

Kemungkinan besar masih ada (maksudnya masih hidup) garis keturunannya juga layak di dengar tapi di kesampingkan hanya karena pamor harga diri dan publikasi seremonial saja.

Di antara makam-makam tua itu seperti Makam Zuriat Nong Isa, panglima merah, Makam Kembar, Putri Erigi Batu, Datuk Panglima Piayu, Makam Tua Syeikh masa belanda, Makam Tionghoa Bersanggul (Dinasty China) dan Makam Tengku Sulong, Makam Putri Hijau.

Narasumber menambahkan “Makam Zuriat Nong Isa” (bukan Makam Nong Isa) adalah makam para kerabat dan keluarga Raja Isa dan dinyatakan oleh Pemko Batam sebagai hari jadinya sejak tanggal 18 Desember 1829. Namun alkisah pada masa dahulu kala (Kerajaan Melayu Riau Daek Lingga) Pusat Pemerintahannya adalah Pulau Penyengat atau Masjid Kuning (memiliki asal asul nama sejarah “Penyengat”) di dirikan oleh seorang Syeikh bergelar Wali Kutub tahun 1803 M, dengan Imam Besar Penyengat Riau “Jang Moelia Radja Hadji Ahmad Bin Radja Oemar”.

Sang pujangga narasumber terbayang alkisah yang sangat menakjubkan dan tersohor  “Pulau Penyengat adalah sebuah bentuk hadiah perkawinan yang di terima oleh Yang Mulia Engku Putri Atau Tengku Hamidah sebagai Pemegang Regalia Kerajaan”. Namun nilai historisnya yang cukup besar cukup tinggi serta keajaibannya di iringi pula oleh keberadaan Kota Batam sebagai Payung Negeri Bertongkat Pulau sehingga menciptakan Tim Pencari Makam Nong Isa…berapa tahun waktu yang di habiskan bersama garis keturunannya atau bersama tokoh-tokoh pejabat dan kerabat saja…?

Raja Ibrahim, Raja Atan Kadir dan Raja Zambahari menjelaskan “Banyak orang di Batam mengaku dirinya keturunan Raja Melayu Asli tapi perbuatannya tidak sesuai dengan ucapan, mulut manis hati mendua, akal bercabang asal amanah, entah dari mana asal-usulnya tiba-tiba bisa pakai gelar Raja dan Datuk hanya untuk mengelabui orang.

Namun saat di singgung tentang beberapa nama seperti Raja Supri, Raja Erwan, Raja Gani dan Ahmad Dahlan-Nyat Kadir (Mantan Walikota Batam) terlihat wajah Raja Ibrahim berubah dan tersenyum tipis di iringi sorot mata yang tajam sambil menarik nafas yang dalam menjawab “Hanya Allah yang tau siapa mereka sebenarnya dan perbuatan mereka terhadap Raja Isa. Siapa diantara mereka yang berani bersumpah sesuai hukum kitab faroid dan apa buktinya coba tunjukan…? Jangan suka mengada-ada nanti kualat…!

Apa lagi Raja Gani pandai membual tak tau apa-apa tentang Raja Isa, konon bergelar raja punya nama. Dari mana asal-usul cerita Sang Raja dengan sebatang pohon terombang ambing di lautan hulu sungai Nongsa…?? pandai mengarang saja.

Berdasarkan  hasil pantauan media ini kenyataannya makam-makam tua yang berada pada setiap titik sudut penjuru Kota Batam sungguh sangat memprihatinkan dan di khawatirkan akan hilang lenyap begitu saja. Apakah benar bangsa Indonesia bangsa yang besar khususnya Pemerintah Daerah/Pemerintah Kota tersohor dengan adat timurnya dan etika Budaya yang luhur…..??

Khususnya makam Zuriat Nong Isa terlihat dengan akal miring sangat menarik, sangat indah menggemaskan seperti kain sutera dengan hiasan tambalan-tambalan kain usang berlapis emas permata. Bahkan atap plafonnya memancarkan sinar sepanjang tahun yang tercipta dari kelopak air mata orang-orang bersih yang menggelantung akibat perbuatan paku baja berlapis intan made in imitasi… ajaib bukan?? Namun demikian makam-makam tua bernilai historis sejarah yang sakral bukan untuk di agungkan melainkan untuk di lestarikan, dirawat serta di jaga selayaknya melalui garis keturunan dengan hati tulus dan benar.

Patut di duga hingga saat ini Disparbud dan Dinsos Pemakaman Kota Batam mengidap virus sakit mata dan gangguan pendengaran. Apakah benar tidak ada anggaran biaya Operasional dan Perawatan di dalam suatu Dinas seperti yang di ucapkan oleh Kadis Budaya Pariwisata Batam “Febrialin” dan Kabidnya “Samsul RP…? Bahkan Dinas tersebut berani mengatakan “Tidak memiliki data-data detail seperti langkah-langkah penelusuran yang di sampaikan oleh tim media ini”. Apa saja kerja dinas itu selain dari jadwal undangan pertemuan atau warga masyarakat menemukan harta karun yang antik…? Dan begitu professional Disbudpar Batam menyuruh tim media ini menemui LAM atau Lembaga Adat Melayu, apakah LAM masuk kategori SKPD Pemko Batam…?

Namun demikian, Dinsos Pemakaman Batam masih sibuk dengan jadwal program kerjanya yang super padat seperti undangan pertemuan, bencana alam, panti asuhan entah benar entah tidak murni anak yatim/dhuafa, pembinaan PSK, gepeng dll-sulit di temui, bagaikan singgasana maharaja dengan sejuta pesona alasan pengawal dayang-dayang…apakah patut di muliakan dan sudah benarkah kinerja yang di bangga-banggakan selama ini..??   (Ricky Mora/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

www.000webhost.com