Home » Aceh » Politik Merupakan Senjata Ampuh untuk Mendobrak Sistim Ekonomi Yang Menindas Rakyat

Politik Merupakan Senjata Ampuh untuk Mendobrak Sistim Ekonomi Yang Menindas Rakyat

SAMUDERAKEPRI. CO. ID, ACEH – Meski suhu udara terbilang cukup panas pada hari itu, tetapi seluruh perwakilan eksekutif kota dari berbagai kampus tetap menggelar konferwil di kedai kopi Abuwa Lhokseumawe, 5 Agustus 2018.

Suasana tambah panas tatkala sejumlah aktivis menyampaikan pidato dengan berkobar-kobar, dan kadang-kadang diselingi tepuk tangan bergemuruh para peserta, juga teriak-teriakan “hidup mahasiswa!”

Acara dibuka dengan memperdengarkan lagu kebangsaan “Indonesia Raya”, disusul lagu “Darah Juang”, salah satu lagu perjuangan yang paling populer sejak kebangkitan gerakan mahasiswa di akhir tahun 1980-an hingga sekarang. Satu per satu utusan eksekutif kota, tampil membawakan orasi politik dan pesan solidaritas.

Nazaruddin atom ketua panitia konferwil dalam orasi nya menyampaikan
“Tidak bisa disangsikan lagi, bahwa perjuangan politik merupakan senjata paling ampuh untuk mendobrak sistim ekonomi-politik yang menindas rakyat. Dan, sebagaimana dibuktikan dengan baik oleh sejarah, perjuangan politik telah diambil oleh gerakan mahasiswa Indonesia untuk melawan kolonialisme dan imperialisme”. Ujar nazaruddin atom saat menyampaikan pidatonya.

Mengenal situasi baru,
Dalam sesi mengenai problem pokok gerakan mahasiswa, salah satu penyebab kemunduran gerakan mahasiswa akhir-akhir ini adalah ketidakmampuan mengenali keadaan dan situasi-situasi baru dalam relasi sosial di kampus.

Sejak neoliberalisme diberlakukan, menurut penegasan nazaruddin, komposisi kelas di Universitas mengalami pergeseran, dimana mahasiswa miskin dan menengah semakin berkurang jumlahnya, sementara mahasiswa kaya semakin bertambah banyak.

Dalam pembacaan Nazaruddin, pergeseran ini mempengaruhi radikalisme dalam gerakan mahasiswa. “Sekarang, gerakan-gerakan politik semakin kehilangan panggung, sementara kelompok hedonis semakin menguasai panggung di dalam kampus.”

Sementara itu, Furqan EK Aceh timur“ Situasi itu semakin diperparah oleh kenyataan bahwa gerakan mahasiswa sekarang sangat kering dengan gagasan dan teori-teori perjuangan.”

Tambahnya, “Mahasiswa radikal semakin ekslusif dan terisolir dari massa mahasiswa secara umum. Terkadang gerakan radikal sangat esklusif dan sibuk dengan respon-respon politik di luar kampus, tanpa berusaha menarik massa mahasiswa secara luas.”

Sementara itu, Eri Ezi aktivis LMND dari unimal ini juga mencontohkan Central Gerakan Mahasiswa Indonesi (CGMI).
Bahwa Pengalaman Central Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI) dalam hal memenangkan kepemimpinan politik di kampus-kampus.
Ketika didirikan tahun 1950, sebagaimana dicatat Donald Hindley, CGMI baru beranggotakan 1180 orang anggota, tetapi pada tahun 1963 CGMI mengaku sudah mempunyai anggota sekitar 17.000 orang.

Dalam praktek gerakannya, CGMI banyak mengintervensi kegiatan-kegiatan non-politis di kampus, mulai dari kampanye menentang perpeloncoan, menggalang petisi untuk menurunkan harga buku, menuntut kenaikan anggaran pendidikan dan tunjangan mahasiswa, terlibat dalam kegiatan sosial (olahraga, kegiatan seni, dsb), dan mobilisasi menentang “musik imperialis”.

Dalam pandangan Eri Ezi, “penting bagi LMND untuk menyambungkan antara aspirasi sosial ekonomi massa mahasiswa dengan kebutuhan perjuangan politik”.

Disamping itu, bung Eri atau yang biasa di Sapa Coonek juga menambahkan “LMND sudah harus merumuskan strategi-taktik untuk memenangkan perebutan lembaga formal di kampus, UKM, dan kelompok-kelompok diskusi mahasiswa.

Di sesi terakhir konferensi ini, Ratusan peserta akhirnya memutuskan untuk memilih pengurus baru untuk kepengurusan LMND Aceh.

Setelah melalui sesi dialog kepemimpinan, barulah musyawarah memilih ketua baru, konferensi akhirnya menghasilkan struktur kepengurusan baru, yaitu Munzir abe sebagai ketua EW-LMND Aceh dan rauzatur rahmi sebagai sekretaris.(***)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Web
Analytics
%d blogger menyukai ini: