Ada Apa Dengan Cinta..Saksi Sebut PT. BBI Yang Menyuruh PT. TSLM Mengkoreksi Nota Invoice

DPRD Batam

, Ada Apa Dengan Cinta..Saksi Sebut PT. BBI Yang Menyuruh PT. TSLM Mengkoreksi Nota Invoice, SamuderaKepri

SK – Batam. Majelis Hakim Pengadilan Negeri Batam menggelar kembali perkara kasus tindak pidana dugaan Penggelapan atau Penipuan (Pasal 372 atau Pasal 378) dengan terdakwa Ibnu Hajar dan terdakwa Sari, pada tanggal 02 Juli 2019.

Proses perjalanan sidang yang digelar sebelumnya, saksi Pelapor bernama Alex atau singkatan namanya adalah HAS (warga negara asing) sebagai pemilik perusahaan/Direktur PT. BBI menunjuk PT. TSLM dengan direktur atau pemilik perusahaan adalah Ibnu Hajar dan Sari adalah karyawan staf operasional (saat ini Terdakwa) sebagai Agen pelayaran labuh tambat kapal.

Sidang tanggal 29 Mei 2019 lalu, Alex sang Direktur PT. BBI menyebutkan bahwa dasar laporan Penggelapan atau Penipuan yang ia buat adalah Nota Invoice dari perusahaan lain yang berada di Singapura (Safe Haven Maritime) dan ia ketahui ada kejanggalan pembayaran labuh tambat kapal sejak bulan April tahun 2013 yang lalu, sehingga dengan alasan itu pula Ia merasa dirugikan oleh terdakwa Ibnu Hajar sebesar 258 ribu dolar Singapura bahkan lebih jumlahnya.

, Ada Apa Dengan Cinta..Saksi Sebut PT. BBI Yang Menyuruh PT. TSLM Mengkoreksi Nota Invoice, SamuderaKepri

Dalam sidang itu Alex saksi pelapor PT.BBI juga menyebutkan, Ia tidak ingat dan tidak tahu tentang ijin perusahaannya PT. BBI sehingga menunjuk PT. TSLM sebagai Agen. Dan sejak Tahun 2010 (Kerjasama) ia tidak pernah melakukan Audit Keuangan Perusahaannya, tidak pernah melakukan pembayaran, dan lagi-lagi hanya menyebutkan Dokumen Nota Invoice yang ia ketahui saja (Kerjasama tahun 2010 – Diketahui bulan April 2013 – Dilaporkan bulan Februari 2019 / dalam BAP) tercetus tentang Nota Invoice yang dipalsukan terdakwa Ibnu,” Kata Alex.

Demikian pula agenda sidang lainnya yang terdengar, terlihat hanya mengupas mengungkap materi persidangan tentang Dokumen Nota Invoice yang dipalsukan oleh terdakwa Ibnu Hajar dan terdakwa Sari selaku staf operasional. Dan di dalam sidang itu sempat terdengar oleh awak media ini bisik-bisik pengunjung sidang “Ini kasusnya Penggelapan, Penipuan atau Pemalsuan Dokumen ya…”

Kemudian tanggal 25 Juni 2019, Agenda Sidang mendengarkan keterangan Saksi Auditor bernama Haris Siregar menyebutkan bahwa ia diminta oleh Alex PT. BBI untuk meng-Audit atau memeriksa kejanggalan nota invoice atas kelebihan pembayaran 100 invoice dari BP Batam dibanding dengan 60 invoice sejak tahun 2012, ada 8 owner kapal kelebihan bayar senilai 258 ribu dolar Singapura yang dilakukan oleh terdakwa Ibnu Hajar (PT.TSLM). Dan ia sebut berdasarkan periode yang sama tapi tanggal dan jumlahnya berbeda.

Saksi Auditor (Haris Siregar) juga mengatakan bahwa, tugasnya hanya melakukan audit nota invoice saja sesuai permintaan PT. BBI, dan ia tidak melakukan audit keuangan.

Dalam jadwal / agenda sidang yang sama, terdakwa Ibnu Hajar memberi keterangan bahwa ia mengaku telah melakukan Penggelembungan Nota Invoice/memalsukannya dengan alasan untuk keperluan biaya operasional dan biaya entertainment juga bersama dengan Alex. Begitu juga terdakwa Sari mengakui kesalahannya karena perintah atasannya. Terdakwa Ibnu sangat menyesal atas perbuatannya (sidang tanggal 25 Juni 2019).

Kemudian sidang terbaru (02 Juli 2019), menurut keterangan saksi Eko Prasetyo mengatakan, bahwa ia pernah bekerja di PT. TSLM (mantan karyawan) mengenal Alex PT. BBI maupun kedua terdakwa. Tugasnya sebagai operasional dalam hal pengurusan ijin kapal. Biasanya yang mengantar atau mengambil invoice adalah PT. BBI, lalu tagihan masuk ke PT. TSLM. Jadi maksudnya invoice dibuat oleh PT. BBI dan dikoreksi oleh PT. TSLM. Dan ia tidak tahu tentang invoice palsu yang dibuat oleh Sari, juga soal cap stempel BNI.

Setelah itu Majelis Hakim menunda persidangan pada jadwal berikutnya.

Dari pantauan awak media ini diduga sebuah telur busuk yang menjadi komoditi atau konsumsi perusahaan telah retak dan pecah menimbulkan aroma permainan indah telur busuk yang terbawa pusaran angin dan tergiring ke meja berwarna hijau.

Sementara itu sang pendamping mengiringinya dengan irama musik opini berjudul Ijin Legalitas dan bukti pembayaran telur busuk.

Bagaimanakah kondisi kesehatan pemangku kewenangan dan yang berkepentingan setelah melihat, menelaah materi perkara kasus ini sehingga berbanding terbalik atas dakwaan penggelapan atau penipuan dengan fakta persidangan mengungkap alur pemalsuan dokumen nota invoice…serta disinyalir telah terjadi perbuatan mengelabui/penggelapan pajak yang merugikan negara atas kesadaran tidak melakukan audit keuangan perusahaan.

Dan patut diduga saksi pelapor Alex PT. BBI terindikasi memberikan keterangan palsu.

Menurut keterangan mbah Google mengatakan, aroma telur busuk dapat mengganggu pernafasan, pencernaan, pendengaran, dan penglihatan yang merupakan bagian dari unsur kesehatan manusia yang menggunakan energi akal sehat. Ada apa dengan cinta… (ricky mora)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: