Home » Aceh » Aktivis Uang Receh

Aktivis Uang Receh

Oleh: Sulthan Alfaraby

SK, Aceh – Saat kita pertama kali mendengar kata “aktivis”, apa yang muncul dalam benak kita?. Apakah sosok orang yang kritis, idealis, jarang kuliah dan kerjanya demo?. Kebanyakan dari kita sekarang ini memandang aktivis sebagai sosok yang berbeda dari orang kebanyakan, dan mungkin banyak yang menganggap aktivis sebagai orang yang berjuang demi rakyat yang tertindas.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Balai Pustaka, 2002), pengertian aktivis adalah individu atau sekelompok orang (terutama anggota politik, sosial, buruh, petani, pemuda, mahasiswa, perempuan) yang bekerja aktif mendorong pelaksanaan sesuatu atau berbagai kegiatan di organisasinya. Bisa kita ambil kesimpulan bahwa aktivis adalah orang yang melakukan sesuatu untuk mencapai sebuah tujuan atau perubahan.

Sebagai seorang mahasiswa, menjadi aktivis adalah sebuah panggilan jiwa. Mahasiswa sebagai agent of change dan agent of social control sebenarnya adalah penyambung lidah rakyat. Artinya, tugas mahasiswa tidak hanya belajar dan sibuk dengan tugas kuliah, melainkan juga berjuang untuk masyarakat. Hal ini sesuai dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Dari konsep ini dapat kita artikan bahwa ruang lingkup mahasiswa adalah studi dan berjuang untuk masyarakat

Karena makna dari aktivis adalah orang yang aktif melakukan perubahan, maka kita akan banyak menemui ragam tipe-tipe aktivis sesuai dengan ruang lingkupnya. Orang-orang yang aktif memperjuangkan hak mahasiswa disebut aktivis mahasiswa. Ada juga aktivis buruh aktivis yang fokus untuk membela hak-hak perempuan disebut aktivis perempuan. Ketika kita bertemu dengan orang yang giat menyelamatkan lingkungan, dia disebut sebagai aktivis lingkungan. Jadi, kita jangan menganggap bahwa seorang aktivis adalah orang yang mengurusi politik semata.

Jika kita sudah melihat peranan aktivis sesuai dengan fungsinya, maka kita sudah bisa menebak bahwa aktivis itu siapa. Tak sedikit aktivis yang sekarang hanya memperjuangkan hak-hak pribadi dan mencari keuntungan suatu kelompok tertentu, dan jika perjuangan itu tidak memberikan manfaat untuk dirinya maka dia enggan untuk membela dan  berjuang demi kebenaran.

Sebut saja misalnya petinggi-petinggi lembaga mahasiswa yang pada awal kampanye pemilihan, dia mungkin bersuara lantang seolah ingin memperjuangkan hak mahasiswa, apalagi didepan junior cantik, suaranya semakin bertambah lantang. Tapi realita ketika sudah terpilih, dia malah bungkam untuk membela hak mahasiswa didepan Birokrat, karena dia mungkin takut jabatannya dipocot atau karena dia berhubungan dekat dengan Birokrat kampus sehingga dia lebih mementingkan hubungannya dengan Birokrat ketimbang rakyat. Padahal dia awalnya juga berasa dari rakyat biasa.

Aktivis semacam itu mungkin sudah biasa ditemui dalam kehidupan kampus, dan penulis suka menyebutnya dengan istilah “Aktivis Uang Receh”. Makna dari aktivis uang receh adalah aktivis yang suka mencari keuntungan materi dan keuntungan lain dan semata-mata hanya untuk pribadi atau kelompok tertentu. Jika tidak ada keuntungan baginya maka dia enggan untuk berjuang demi kepentingan orang banyak yang tertindas, anggap saja seperti hak-hak mahasiswa.

Padahal aktivis terutama aktivis mahasiswa, harus menjadi penyambung aspirasi orang yang dibawahnya dan harus bisa menjadi garda terdepan dalam membela kebenaran, bukan malah pencitraan saat kampanye pemilihan ketua dan kemudian setelah berada diatas malah pura-pura lupa dengan semua janji-janji yang diucapkan. Penulis berharap, sifat aktivis semacam ini harus segera dilenyapkan, karena bisa membahayakan fungsi-fungsi perjuangan dan merusak nama baik almamater. Kampus dibangun sebagai tempat pembelajaran dan pergerakan, bukan malah menjadi tempat ajang pencitraan dan pamer jabatan.

Jika jiwa aktivis pada mahasiswa sudah rusak, bagaimana mahasiswa bisa memperjuangkan rakyat? Jika jiwa aktivis mahasiswa sudah hilang, kepada siapa lagi rakyat akan mengadu segala permasalahan sosial?.(***)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Web
Analytics
%d blogger menyukai ini: