Hybrid Learning dan Harapan Pengembangan SDM Unggul

Hybrid Learning dan Harapan Pengembangan SDM Unggul
Hybrid Learning dan Harapan Pengembangan SDM Unggul

Opini, SK.co.id – Adanya wacana perubahan Covid-19 dari pandemi menuju endemi menjadikan segala interaksi kehidupan harus dibiasakan berdampingan dengan Covid- 19, termasuk bidang pendidikan. Kebijakan pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang sudah diberlakukan sejak Maret 2020 hingga saat ini juga harus mulai berubah. Walaupun PJJ memang memiliki dampak positif untuk meningkatkan literasi digital bagi murid, namun jika diberlakukan lebih lama tentu akan menghasilkan dampak negatif pula, karena sejatinya proses belajar-mengajar memang harus dilakukan secara nyata dengan adanya interaksi secara langsung dari guru dan interaksi di lingkungan sekolah, karena ini yang sebenarnya dinamakan proses belajar-mengajar.

Survei mengenai tantangan yang dihadapi keluarga peserta didik selama PJJ dilakukan oleh Kaspersky untuk kawasan Asia Pasifik (APAC). Adanya kebutuhan fasilitas perangkat elektronik untuk PJJ,  dari survei terlihat bahwa sekitar 49% atau satu dari dua keluarga harus membeli atau menyewa perangkat elektronik tersebut demi mengikuti PJJ. Angka ini memang masih lebih sedikit dibanding Afrika sebesar 62% lalu diikuti oleh Amerika Latin sebesar 48%. Survei juga menyebutkan bahwa tiga dari lima anak di APAC mengalami kesulitan teknis untuk terhubung ke pembelajaran online baik karena jaringan internet dan masalah lainnya.

Sektor pendidikan adalah sektor vital yang menopang negara sehingga tidak boleh dibiarkan terhambat dan stagnan. Terjadinya learning loss atau kehilangan pengetahuan serta keterampilan juga adalah salah satu dampak yang memberikan kemunduran sistemik bagi sektor pendidikan.  Untuk itu di era yang mengharuskan serba virtual ini diperlukan hybrid learning.

Penerapan Hybrid Learning

Hybrid learning dilakukandengan melakukan kombinasi antarapertemuan tatap muka (PTM) dan PJJ. PTM dilakukan terbatas dengan rotasi membatasi jumlah siswa misalnya sebanyak 50% yang hadir saat PTM lalu sisanya melalui PJJ. Survei yang dilakukan oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) tentang Pelaksanaan PJJ, menjelaskan bahwa 79.9% dari responden mengalami kegagalan interaksi antara guru dan murid sehingga hybrid learning sangat perlu dilakukan untuk menyempurnakan interaksi pembelajaran PJJ.

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) pada tanggal 21 September 2021 mengeluarkan surat untuk bimbingan teknis bagi tenaga pengajar untuk pelaksanaan PTM sebagai upaya dari penyelenggaran pola hybrid learning. Hal ini juga dilakukan sebagai tindak lanjut Surat Edaran No 4 Tahun 2021 Kemendikbudristek Tentang Penyelenggaraan Pembelajaran Tatap Muka Tahun Akademik 2021/2022.

Ada beberapa hal yang harus dilakukan untuk memulai hal ini, diantaranya yakni personalization untuk membahas apa yang dipelajari baik itu kurikulum, penilaian hingga program. Kedua yaitu face to face agar mulai terbangun interaksi antara guru dan murid dalam PTM. Selanjutnya adaptive learning tool  untuk melatih guru dan murid berinteraksi terhadap penggunaan teknologi saat hybrid learning.

Dilansir dari website Kemendikbudristek, survei Balitbang Kemendikbudristek tahun 2020 juga menunjukkan bahwa sejak awal pandemi terjadi, hanya dibawah dari 50% murid yang benar-benar belajar dengan baik dari rumah. Atas hal inilah terjadi yang dinamakan learning loss yang menunjukkan terjadinya penurunan besar-besaran terhadap kemampuan anak dalam calistung (baca, tulis, dan hitung). Penerapan hybrid learning adalah metode yang sangat perlu untuk dilakukan saat ini, dan ini tentu berbeda dengan blended learning, dimana hybrid learning  dilakukan dengan pengajaran dan penyampaian pembelajaran dilakukan secara daring dan luring bersamaan. Setengah dari jumlah murid hadir secara langsung dan beberapa yang lain mengikuti secara daring dibantu teknologi video konferensi dengan menggunakan jaringan internet.

Sinkronisasi Guru dan Murid

Hybrid learning menjadi kesempatan sekaligus tantangan baru, sinkronisasi guru dan murid perlu diperhatikan karena guru juga harus memiliki keterampilan lebih untuk untuk dapat mempraktekkan hybrid learning. Disini dituntut kreativitas guru serta sinkronisasi dengan murid serta orang tua. Apabila ini dikerjakan dengan baik maka tentunya akan berdampak positif yang luar biasa terhadap pembelajaran di masa pandemi saat ini.

Bonus demografi tahun 2030 akan menjadi persoalan dan tantangan baru dimana angkatan kerja akan mencapai angka 67% dari 297 juta jiwa masyarakat Indonesia nantinya. Untuk itu mencetak generasi yang unggul dalam SDM adalah salah satu cara menghadapi bonus demografi karena persaingan antarnegara turut semakin ketat seperti kemajuan teknologi informasi.

Dalam laporan “Capaian Kinerja 2021, Indonesia Tangguh-Indonesia Tumbuh” yang diluncurkan tepat pada dua tahun pemerintahan Presiden Joko Widodo – Wakil Presiden (Wapres) Ma’ruf Amin, dijelaskan bahwa melahirkan generasi unggul adalah agenda strategis nasional. Sehingga tuntutan mencetak generasi masa depan yang unggul dalam SDM harus dimulai sejak dini walaupun saat ini dunia sedang diterpa pandemi Covid-19. Untuk mendorong terbentuknya SDM unggul tersebut maka pemerintah bersama seluruh stakeholder pendidikan harus mampu menyukseskan dan mengembangkan metode pembelajaran yang berdampak positif sehingga meminimalisir learning loss serta mampu menyesuaikan dengan keadaan pandemi Covid-19. Salah satunya dengan melaksanakan hybrid learning bagi setiap instansi pendidikan di seluruh Indonesia.(***)

Amilan Hatta

Direktur Eksekutif LINKKAR (Lembaga Analisis dan Kajian Kebudayaan daerah)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.