fbpx

Keterangan Saksi Pelapor Penggelapan Atau Penipuan Terkesan Aneh Dan Menggelikan

Keterangan Saksi Pelapor Penggelapan Atau Penipuan Terkesan Aneh Dan Menggelikan, SamuderaKepri

SK, Batam – Sidang perkara Pidana Penggelapan atau Penipuan yang menimpa terdakwa IH dan terdakwa Sr dengan No. 359/PID.B/2019/PN.BTM, kembali digelar oleh Pengadilan Negeri (PN) Batam pada tanggal 28 Mei 2019.

Namun suasana kantor khususnya ruangan sidang PN Batam terasa sejuk, indah dan dipenuhi rasa damai…serta diiringi rasa harap-harap cemas yang bercampur aduk dengan rasa dongkol…bahkan menimbulkan rasa mengantuk…telah mendera pengunjung sidang.

Mengapa demikian…? Karena para pengunjung yang hadir di kantor Pengadilan Negeri Batam memilih untuk belajar bersikap bijak yaitu Menghargai Waktu dan belajar Mendisiplinkan Diri di dalam menanti Majelis Hakim yang mulia hadir di ruang sidang, hingga berjam-jam baru nongol dan duduk diruangan sidang.

Akhirnya setelah Majelis Hakim hadir, lalu sidang dibuka dan dinyatakan terbuka untuk umum, dengan Agenda Sidang mendengarkan Keterangan Saksi Pelapor.
Kemudian Ketua Majelis Hakim Yona Lamerossa dengan anggota Efrida Yanti dan Taufik Abdul Halim, memanggil Saksi Pelapor bernama Herman Alexander Schult (HAS) seorang WNA berkebangsaan Norwegia, bertempat tinggal di Apartemen Harmoni – Nagoya Batam, untuk memberikan keterangan setelah disumpah.

Didalam persidangan Majelis Hakim menanyakan tentang perkara yang di sidangkan, hubungannya dengan terdakwa IH, Sr, juga kronologi perkara…?

Saksi Pelapor HAS atau Alex (tidak tau bahasa Indonesia) memberi keterangan/jawaban melalui Translator berkerudung merah, bahwa perkara ini adalah Penggelapan atau Penipuan yang dilaporkannya kepada pihak Kepolisian. Dan hubungan saksi dengan terdakwa IH adalah hubungan kerja (Terdakwa selaku Kepala Cabang PT.Tri Sakti Lautan Mas) yaitu terdakwa sebagai Agen Pelayaran untuk jasa penambatan kapal dan jasa pelayaran kepelabuhan laut sesuai dengan Surat Penunjukan Keagenan (Letter Of Appointment/LOA) dari PT. Baruna Bahari Indonesia (PT.BBI) dan kapasitas Saksi Pelapor adalah selaku Direktur.

Majelis Hakim juga menanyakan, Kapan dan bagaimana terdakwa IH melakukan Penggelapan atau Penipuan…?

Saksi Pelapor Alex menjawab, bahwa ia mengetahui terdakwa telah menipunya pada saat ia menemukan “Invoice Dokumen” pada bulan April 2013 tentang labuh jangkar atau labuh tambat yang tidak sesuai karena lebih kecil dari jumlah biasanya, dan setiap dibayar katanya memakai kuitansi yang dikeluarkan oleh BP Batam (dokumen tersebut tentang peraturan baru BP Batam). Dan pembayaran “Invoice” di dalam dokumen tersebut dilakukan oleh perusahaan lain yang berada di Singapura yaitu Safe Haven Maritime PTE LTD.

Majelis Hakim pun bertanya lagi tentang apa hubungan Saksi dengan perusahaan lain yaitu Safe Haven Maritime, siapa yang bertanggung jawab dalam pembayaran, dan sudah pernah dilakukan Audit Keuangan sesuai peraturan perusahaan bila ditemukan penggelapan atau penipuan (sebab di dalam BAP diketahui pada bulan Februari 2019) dan apakah saksi minta klarifikasi kepada terdakwa untuk memperbaiki dokumen sesuai jumlahnya dan berapa jumlahnya…?

Alex saksi pelapor menjawab, bahwa saksi tidak tahu/tidak ingat tentang pembayaran uang, saksi tidak pernah melakukan pembayaran, dan saksi tidak tau/tidak ingat tentang Audit Keuangan. Dan kerjasama antara PT.BBI dengan PT.TSLM sudah berjalan sejak tahun 2010, jadi saksi tidak ingat berapa jumlahnya. Saksi menyebut dasar penggelapan atau penipuan adalah bukti “Invoice” yang dibayarkan Safe Haven. Dan saksi sebut dokumen yang dipalsukan/tidak sesuai dengan jumlahnya.

Di dalam persidangan JPU menanyakan berapa keuntungan yang diperoleh terdakwa..?

Saksi Pelapor menjawab, sesuai “Invoice” mencapai ratusan dan ribuan dolar. Juga saksi tidak ingat berapa jumlah pastinya,” Singkatnya.

Kemudian Penasehat Hukum terdakwa dari Kantor Advokat SN.Partnership menanyakan tentang kronologi perkara, hubungan kerja, Audit Keuangan dan Ijin yang dimiliki oleh perusahaan saksi..?

Saksi Pelapor menjawab tidak berbeda jauh dengan jawaban sebelumnya (pertanyaan Majelis Hakim) dan menyebutkan tentang invoice, serta tidak ingat/tidak tahu soal ijin yang dimiliki perusahaannya.

Namun pada saat sidang sempat terdengar awak media ini bisikan celoteh pengunjung, ini perkara penggelapan dan penipuan atau pemalsuan dokumen invoice…?

Dan setelah itu Majelis Hakim menunda persidangan pada bulan Juni mendatang. (rm)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.

%d blogger menyukai ini: