Jakarta (SAMUDERAKEPRI) – Konsistensi politik luar negeri Indonesia dalam mengawal isu kemanusiaan dan kemerdekaan di kancah internasional kembali ditegaskan di bawah kepemimpinan nasional yang baru. Presiden Prabowo Subianto menerima sambungan telepon langsung dari Presiden Palestina, Mahmoud Abbas, di Jakarta pada Senin malam, 15 Juni 2026. Komunikasi diplomatik tingkat tinggi ini mempertegas komitmen sakral Indonesia untuk terus berdiri di garda terdepan mendukung perjuangan rakyat Palestina dari cengkeraman penjajahan.
Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya, dalam keterangan tertulisnya membeberkan bahwa dialog antarpemimpin negara tersebut membahas eskalasi dan situasi terkini yang sedang berkecamuk di tanah Palestina. Dalam pembicaraan tersebut, Mahmoud Abbas menyampaikan apresiasi dan penghargaan setinggi-tingginya atas keteguhan sikap bangsa Indonesia yang secara transparan dan nyata terus memberikan bantuan tanpa henti.
Seskab Teddy mengungkapkan bahwa posisi kepemimpinan Indonesia di bawah kendali Prabowo Subianto memiliki daya tawar dan pengaruh yang sangat diperhitungkan dalam berbagai forum multilateral global. Hal ini membuat pihak Palestina menaruh harapan besar agar Indonesia terus mengambil peran aktif menjadi motor penggerak perdamaian di tengah dinamisnya konstelasi politik dunia.
Rekam jejak Prabowo Subianto dalam membela hak-hak ulayat dan kemanusiaan rakyat Palestina sejatinya telah tertanam kuat, bahkan sejak dirinya mengemban amanah sebagai Menteri Pertahanan. Berdasarkan data yang dihimpun, dukungan konkret tersebut diwujudkan secara akuntabel mulai dari penerbangan logistik udara, pengiriman kapal rumah sakit beserta tenaga medis ke wilayah konflik, hingga pemberian beasiswa penuh bagi 100 anak Palestina untuk menempuh pendidikan di Universitas Pertahanan.
Merespons harapan besar dari Ramallah, Presiden Prabowo menegaskan kembali bahwa dukungan Indonesia bukanlah sekadar retorika politik di atas kertas, melainkan amanat suci konstitusi yang wajib dijalankan. Indonesia mendesak segera terwujudnya perdamaian yang adil, objektif, dan bermartabat, serta menolak segala bentuk penindasan yang mencederai nilai-nilai kemanusiaan universal.
Sumber: Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden (BPMI Setpres)


