Investasi Saham : Peluang dan Risiko bagi Generasi Milenial

8

Jakarta, samuderakepri.co.id – Bagi generasi milenial, investasi saham di pasar modal kini menjadi pilihan yang menarik. Berbeda dengan generasi sebelumnya yang hanya sebagian kecil yang mengenal investasi ini, kini banyak profesional muda dan pebisnis milenial yang terlibat dalam transaksi saham.

Data menunjukkan bahwa pada akhir tahun 2023, terdapat 12,16 juta investor pasar modal, di mana 1,43 juta di antaranya aktif bertransaksi. Saham menjadi produk investasi yang paling diminati di pasar modal.

Saham adalah surat berharga yang menunjukkan kepemilikan seseorang atau lembaga terhadap suatu perusahaan. Dengan menjual sahamnya ke publik, perusahaan bisa mendapatkan dana tambahan untuk berbagai keperluan, seperti ekspansi usaha, pembayaran utang, atau cadangan dana.

Proses penjualan saham ke publik disebut initial public offering (IPO). Perusahaan yang ingin melakukan IPO harus bekerja sama dengan perusahaan efek yang bertindak sebagai penjamin emisi. Setelah saham dijual di pasar perdana, saham tersebut kemudian dicatatkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan bisa diperdagangkan di pasar sekunder.
Investor yang membeli saham di pasar modal memiliki hak dan kewajiban sebagai pemegang saham. Mereka berhak memberikan suara dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) dan mendapatkan dividen atau bagian laba perusahaan. Mereka juga berpotensi mendapatkan capital gain, yaitu keuntungan dari selisih harga beli dan jual saham.

Namun, investasi saham juga memiliki risiko, yaitu capital loss, yaitu kerugian dari selisih harga beli dan jual saham. Harga saham bisa berubah-ubah setiap saat, tergantung pada permintaan dan penawaran di pasar. Faktor-faktor yang mempengaruhi harga saham antara lain kinerja perusahaan, kondisi ekonomi, politik, stabilitas, dan situasi sektor usaha. Investor harus memahami risiko ini dan mengambil keputusan yang tepat dalam berinvestasi saham.

Risiko lainnya dari investasi saham adalah jika perusahaan mengalami likuidasi, atau dibubarkan. Dalam aturan perusahaan, jika perusahaan dilikuidasi, maka investor mendapatkan bagian terakhir dari penjualan aset-aset perusahaan. Jika ada sisa aset yang dilikuidasi, setelah perusahaan membayarkan seluruh kewajibannya, maka investor atau pemegang saham baru akan mendapatkan bagiannya yang disesuaikan dengan komposisi kepemilikan sahamnya.

Agar risiko investasi saham terkelola dengan baik, investor harus rajin mencermati kinerja perusahaan yang wajib dipublikasi sesuai peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Selain itu, investor juga perlu membaca berbagai analisis saham yang dibuat oleh para analis saham yang mengaitkan kinerja perusahaan dengan berbagai faktor eksternal.

Metode lainnya untuk menimalisasi risiko adalah dengan melakukan diversifikasi portofolio atau memiliki lebih dari satu saham. Semakin terdiversfikasi portofolio yang kita miliki maka akan semakin baik. Oleh karena itu, jika salah satu saham yang dimiliki harganya turun, maka masih ada saham lain yang harganya kemungkinan naik atau tidak turun. Seperti kata pepatah, “jangan simpan telurmu di dalam satu keranjang”. Hal ini dikarenakan jika keranjang tersebut terjatuh, maka semua telurnya akan pecah. Begitupula dengan investasi saham, apabila kita hanya memiliki satu saham dan saham tersebut jatuh harganya, maka modal kita pun juga akan menurun nilainya. Akan tetapi, jika kita memiliki banyak saham dalam portofolio investasi, maka ada kemungkinan modal tersebut tetap akan naik apabila salah satu saham mengalami penurunan harga. ***TIM BEI

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini