Simak! Ini Dia Tips dan Trik Menjadi Investor Saham yang Sukses

0
37

Jakarta, samuderakepri.co.id – Siapa yang masih ingat pengalaman pertama kali membuka rekening di bank? Pasti ada rasa senang ketika kita mulai bekerja dan harus memiliki rekening bank untuk menerima gaji bulanan. Atau ketika kita berbisnis dan memerlukan rekening bank sebagai tempat uang berputar. Ada juga yang mungkin sudah punya rekening bank sejak sekolah atau kuliah. Lalu, bagaimana kalau kita ingin menjadi investor saham?

Prosedur untuk menjadi investor saham tidak jauh berbeda dengan membuka rekening di bank. Hanya saja, rekening saham dibuka di perusahan sekuritas atau perusahaan efek. Ada lebih dari 90 perusahaan efek atau sekuritas yang sudah menjadi anggota Bursa Efek Indonesia (BEI) dan sudah mendapat izin dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Perusahaan efek juga memiliki kantor cabang di berbagai tempat dan daerah sehingga memudahkan calon investor dan investor untuk membuka rekening atau mendapat informasi. Ada juga perusahaan efek yang menyediakan ruangan galeri investasi, tempat para investor berkumpul, saling berbagi informasi, dan bertransaksi bersama.

Nama-nama perusahaan sekuritas dan informasi tentang perusahaan bisa diakses melalui website OJK dan BEI. Oleh karena itu, kita harus hati-hati memilih perusahaan efek yang sudah diawasi OJK. Selain itu, perusahaan efek harus menjadi anggota BEI atau partner dari anggota BEI karena setiap transaksi saham yang terjadi di pasar modal Indonesia harus difasilitasi BEI.

Setelah menyelesaikan persyaratan administrasi untuk menjadi nasabah perusahaan efek, dan memiliki rekening bank di bank pembayar yang melayani transaksi pasar modal, maka investor sudah bisa mulai bertransaksi. Tentu saja, setelah menempatkan sejumlah deposit dana di bank pembayar, yang besarnya tergantung dari ketentuan masing-masing perusahaan sekuritas. Investor bisa membuka rekening efek di lebih dari satu perusahaan efek.

Meskipun nama investor ada di banyak perusahaan efek, data aset investor yang berupa data kepemilikan efek tersentralisasi di satu Single Investor Identification (SID) yang tersimpan di sistem AKSes yang dikelola Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) sebagai Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian transaksi saham. Setiap investor akan menerima satu kartu AKSes yang berisi SID dan bisa diakses untuk melihat data mutasi transaksi dan data kepemilikan efek masing-masing investor di pasar modal Indonesia.

Selain KSEI, ada satu lembaga lagi yaitu PT KPEI (Kliring Penjamin Efek Indonesia), yang menjadi lembaga Kliring dan Penjaminan (LKP). Ketiga fasilitator perdagangan saham ini, yaitu BEI, KPEI dan KSEI disebut SRO (Self-Regulatory Organization), yang operasionalnya diawasi oleh OJK.

Langkah pertama setelah mendapatkan SID adalah mempelajari cara bertransaksi saham, yang bisa dilakukan secara langsung melalui sistem perdagangan online milik perusahaan efek. Investor bisa bertransaksi dari mana saja, asalkan ada jaringan wifi untuk terhubung dengan sistem transaksi online milik perusahaan sekuritas, yang terhubung pula dengan sistem perdagangan saham BEI.

Investor juga perlu mempelajari saham-saham yang ingin dibeli untuk mengisi portofolio investasi. Investor dapat mempelajari kinerja perusahaan baik dari informasi publik seperti laporan keuangan, company profile atau prospectus, hasil analisa analis-analis saham, dan beberapa informasi lainnya. Selain itu, investor perlu memperhatikan setiap corporate action perusahaan yang bisa berdampak pada perubahan harga saham, baik naik maupun turun.

Hal yang terpenting dalam berinvestasi saham adalah harus realistis dan tidak terpancing emosi. Kita tidak boleh terbawa arus “ikut-ikutan” karena bisa saja suatu waktu para spekulator saham sengaja mencari keuntungan dari kepanikan investor atau dengan sengaja membuat jebakan untuk membeli saham tertentu yang dibuat seolah-olah banyak diminati. Jika harga saham turun, jangan panik dan cepat menjual sebelum mempelajari kinerja dan faktor-faktor lainnya. Sebaliknya, jika melihat ada harga saham yang naik, jangan pula kita langsung terburu-buru untuk membeli sebelum menganalisanya. *** TIM BEI

Tinggalkan Balasan